Kewajiban suami kepada istri


Kesempatan yang lalu, telah diangkat mengenai kewajiban istri di web Muslim.Or.Id tercinta ini. Saat ini, giliran suami pun harus mengetahui kewajibannya. Apa saja kewajiban suami, berkaitan dengan berbuat baik pada istri dan kewajiban nafkah, akan diulas secara sederhana dalam tulisan kali ini. Moga dengan mengetahui hal ini pasutri semakin lekat kecintaannya, tidak penuh ego dan semoga hubungan mesta tetap langgeng.
Pertama: Bergaul dengan istri dengan cara yang ma’ruf (baik)
Yang dimaksud di sini adalah bergaul dengan baik, tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan istri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik kalian adalah yan berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)
Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri. Nah, setelah ini akan kami utarakan berbagai bentuk berbuat baik kepada istri. Penjelasan ini diperinci satu demi satu agar lebih diperhatikan para suami.
Kedua: Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal dengan baik
Yang dimaksud nafkah adalah harta yang dikeluarkan oleh suami untuk istri dan anak-anaknya berupa makanana, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya. Nafkah seperti ini adalah kewajiban suami berdasarkan dalil Al Qur’an, hadits, ijma’ dan logika.
Dalil Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7).
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bapak dari si anak punya kewajiban dengan cara yang ma’ruf (baik) memberi nafkah pada ibu si anak, termasuk pula dalam hal pakaian. Yang dimaksud dengan cara yang ma’ruf adalah dengan memperhatikan kebiasaan masyarakatnya tanpa bersikap berlebih-lebihan dan tidak pula pelit. Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya, serta bersikap pertengahan dan hemat” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 375).
Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada’,
فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).
Lalu berapa besar nafkah yang menjadi kewajiban suami?
Disebutkan dalam ayat,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 7).
عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ
“Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula)” (QS. Al Baqarah: 236).
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hindun,
خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:
Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan, tempat dan zaman.
Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rizki ataukah tidak.
Termasuk dalam hal nafkah adalah untuk urusan pakaian dan tempat tinggal bagi istri. Patokannya adalah dua hal yang disebutkan di atas.
Mencari nafkah bagi suami adalah suatu kewajiban dan jalan meraih pahala. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah menunaikan tugas yang mulia ini.
Masih ada beberapa hal terkait kewajiban suami yang belum dibahas. Insya Allah akan berlanjut pada tulisan berikutnya.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Referensi: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 3: 197-204

Iklan

saling mencintai


Apabila engkau mencintai seseorang, atau engkau mempunyai seseorang yang kamu anggap istimewa dimatamu, maka kabarkan padanya, bahwa dirimu mencintainya. Karena sesungguhnya hal tersebut, merupakan anak panah yang akan menancap di dalam hati dan membuat bahagia. Oleh karena itu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِي مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ )) [رواه الترمذي و أحمد]

“Apabila salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka datanglah kerumahnya, lalu beritahu padanya bahwa engkau mencintainya”. HR at-Tirmidzi dan Ahmad. Hadits shahih sebagaimana dishahihul Jami’. Dan dalam riwayat yang mursal ditambahkan: ‘Sesungguhnya hal tersebut akan melanggengkan rasa kasih sayang’.

Namun perlu dipahami dengan catatan hendaknya kecintaan yang didasari karena Allah, bukan karena didasar tujuan ingin meraih dunia, seperti jabatan dan harta, lebih dikenal dan mencari tanda jasa. Karena tiap persaudaraan yang dilandasi karena Allah maka akan sirna, sedangkan pada hari kiamat kelak, semua berbalik menjadi musuh, hal itu sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah Azza wa jalla:

قال الله تعالى: ﴿ ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ﴾ (سورة الزخرف 67) .

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS az-Zukhruf: 67).

Dalam hadits disebutkan: ‘Seseorang itu akan bersama orang yang ia cintai’. Maksudnya kelak pada hari kiamat, sebagaimana yang tertera didalam sabda oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, dua sifat, cinta dan menyayangi, maka keduanya merupakan sarana terbesar untuk bisa mengambil hati sesorang.

Oleh karenanya, dalam sebuah lingkungan Cuma ada dua, lingkungan yang penuh dengan persaudaraan, saling mencintai dan menyayangi atau sebuah masyarakat yang penuh dengan perpecahan, permusuhan dan perselisihan.

Dengan tujuan seperti itu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh, yaitu manakala membentuk sebuah masyarakat yang saling menyayangi, penuh dengan persaudara antara Muhajirin dan Anshar. Sampai kiranya diketahui bahwa fulan adalah saudaranya si fulan, sehingga kecintaan mereka sampai mengantarkan dirinya diliang kubur yaitu manakala mereka gugur, mati sahid dalam sebuah peperangan. Bahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih menekankan lagi sarana yang mampu menebar kecintaan ini yaitu dengan sabdanya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ )) [رواه مسلم والترمذي وابن ماجه وغيرهم]

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak bisa sempurna keimanan kalian sampai kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahu sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian”. HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.

Saudaraku yang saya cintai…

Perasaan, kesadaran dan belas kasih orang pada sekarang ini, sangat disayangkan sekali, berada diujung semua yang kita sebut tadi, disana ada orang yang dalam bergaul bersama karibnya dengan akal yang kaku, kosong dari sifat sensitive dan belas kasih. Dan kebalikan dari itu, ada orang yang dalam bergaul bersama teman karibnya, hanya mengandalkan perasaan yang halus, bahkan terkadang sampai pada tingkat mabuk kasmaran, terkagum-kagum dan mendewakannya.

Maka bersikap tengah-tengah, mengukurnya dengan akal dan perasaan sesuai dengan kondisi dan orang yang berbeda-beda. Dan itu semua adalah tuntutan yang tidak mungkin semua orang bisa akan tetapi keutamaan itu, Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

A. Bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada orang lain

Apakah sudah cukup baik kita dalam bersikap mudaraah? Apakah engkau mengetahui perbedaan antara sikap mudaraah dan mudahanah (menjilat)?.

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: (( أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ . فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ , فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ)) [متفق عليه]

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada seorang lelaki yang memohon izin kepada Rasulullah e, maka beliaupun bersabda: “Izinkanlah untuknya, seburuk-buruk kerabat ialah dia, maka ketika ia telah masuk dan duduk disamping beliau, beliau (Rasulullah e) bermanis muka kepadanya.” Ketika orang tersebut pulang, maka akupun bertanya keheranan: Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi begini dan begitu, namun kemudian tatkala ia masuk, engkau bermanis muka kepadanya? Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kapan kamu melihatku pernah melakukan perbuatan keji. Sesungguhnya manusia paling buruk ialah orang yang dijauhi oleh orang lain karena mereka menghindari kata-katanya yang keji.” HR Bukhari dan Muslim.

Al Qurthubi mengomentari hadits ini dengan berkata: “Pada hadits ini terdapat petunjuk bolehnya mengghibahi (menyebutkan kesalahan) orang yang menampakkan kefasikan atau perbuatan keji dan yang serupa dengannya berupa tindak kelaliman ketika memutuskan sesuatu, menyeru kepada perbuatan bid’ah. Sebagaimana ada petunjuk bolehnya bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada mereka, guna menghindari kejahatannya, selama sikap bijak tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala.

Dan perbedaan antara sikap bijak dan menjilat ialah sikap bijak adalah mengorbankan sebagian kepentingan duniawi demi menjaga kemaslahatan duniawi lainnya atau kemaslahatan agama atau kedua-duanya, dan sikap ini adalah sikap yang dibolehkan, bahkan kadang kala dianjurkan. Sedangkan sikap menjilat adalah mengorbankan urusan agama demi mencapai kepentingan duniawi. Dan Nabi e dalam kisah ini hanya mengorbankan dari kepentingan duniawinya untuk orang tersebut berupa sambutan baik dan berlemah lembut ketika berbicara dengannya. Walaupun demikian beliau sama sekali tidak pernah memujinya dengan suatu ucapan apapun, sehingga tidak ada pertentangan antara ucapan beliau pertama dengan sikapnya.”

Jadi yang dimaksud dengan mudaraah yaitu bersikap lemah lembut ketika berbicara dan sambutan yang baik manakala menghadapi pelaku kemaksiatan dan pendosa, itu dilakukan karena, pertama guna menghindari kejahatannya, dan yang kedua harapan untuk mereka, barangkali dengan sikap bijak ini bisa sebagai sebab mereka memperoleh hidayah, namun dengan syarat selama sikap bijak tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala.

Namun yang dibolehkan hanya pada urusan dunia saja, karena kalau itu dilakukan dalam urusan agama, dirinya telah berbalik dari sikap mudaraah menjadi mudahanah (menjilat), sekarang apakah kita bisa merealisasikan keduanya? Seperti, lemah lembut, memberi udzur, bermuka manis, memuji atas seseorang yang bisa mendatangkan kemaslahatan syar’iyah. Dan diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Mudarah kepada orang lain termasuk sedekah”. Dikeluarkan ole hath-Thabarani dari haditsnya Jabir radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Bathal mengomentari hadits ini dengan mengatakan: ‘Mudarah termasuk bagian dari akhlaknya seorang mukmin, yaitu dengan bersikap lemah lembut pada orang lain, dan merendahkan suara, dan yang demikian merupakan sarana yang paling kuat untuk mendorong tumbuhnya persaudaraan’.

Inilah, jaring untuk memburu, maka sebaik-baik target ada dalam permisalan, dan itu telah saya sebutkan dan isyaratkan karena hal itu sangat banyak sekali jenisnya.

UNTUKMU WAHAI MUSLIMAH


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya :
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min : ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab : 59) Baca lebih lanjut

BAHAYA RIBA


     economy-money-coin_~trd014ca0698
Allah Swt. berfirman;
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan Baca lebih lanjut

‎Jangan Kau Hanguskan Sendiri Amal Shalihmu…!!


images (1)

Tidak sedikit di antara kita yang menuliskan pada statusnya di FB: ” Tahajjud sudah, dzikir sudah, baca al-Qur’an sudah. Sekarang apalagi ya?” Atau, menuliskan bahwa dia sudah makan ini dan minum itu untuk sahur, agar diketahui orang lain bahwa dia sedang mengerjakan puasa sunnah, atau mengatakan: “Wahh, jalanan macet banget, bisa telat berbuka di rumah nih”, atau dengan kalimat “Kayanya harus berbuka di jalan nih.”

Wahai para hamba Allah yang sedang meniti jalan menuju Rabbnya, janganlah luasnya rahmat dan ampunan Allah menjadikan kita merasa aman dari siksa dan adzab-Nya. Janganlah kita merasa bahwa segala amalan yang kita kerjakan pasti diterima oleh-Nya, siapakah yang bisa menjamin itu semua?
Baca lebih lanjut

kiat menghindari maksiat


23

Berikut ini terapi mujarab untuk menawar racun kemaksiatan, antara lain:

1. Anggaplah besar dosamu.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata,
“Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang fajir (suka berbuat dosa) dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya”. Baca lebih lanjut