saling mencintai


Apabila engkau mencintai seseorang, atau engkau mempunyai seseorang yang kamu anggap istimewa dimatamu, maka kabarkan padanya, bahwa dirimu mencintainya. Karena sesungguhnya hal tersebut, merupakan anak panah yang akan menancap di dalam hati dan membuat bahagia. Oleh karena itu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيَأْتِهِ فِي مَنْزِلِهِ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ )) [رواه الترمذي و أحمد]

“Apabila salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka datanglah kerumahnya, lalu beritahu padanya bahwa engkau mencintainya”. HR at-Tirmidzi dan Ahmad. Hadits shahih sebagaimana dishahihul Jami’. Dan dalam riwayat yang mursal ditambahkan: ‘Sesungguhnya hal tersebut akan melanggengkan rasa kasih sayang’.

Namun perlu dipahami dengan catatan hendaknya kecintaan yang didasari karena Allah, bukan karena didasar tujuan ingin meraih dunia, seperti jabatan dan harta, lebih dikenal dan mencari tanda jasa. Karena tiap persaudaraan yang dilandasi karena Allah maka akan sirna, sedangkan pada hari kiamat kelak, semua berbalik menjadi musuh, hal itu sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah Azza wa jalla:

قال الله تعالى: ﴿ ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ﴾ (سورة الزخرف 67) .

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa”. (QS az-Zukhruf: 67).

Dalam hadits disebutkan: ‘Seseorang itu akan bersama orang yang ia cintai’. Maksudnya kelak pada hari kiamat, sebagaimana yang tertera didalam sabda oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, dua sifat, cinta dan menyayangi, maka keduanya merupakan sarana terbesar untuk bisa mengambil hati sesorang.

Oleh karenanya, dalam sebuah lingkungan Cuma ada dua, lingkungan yang penuh dengan persaudaraan, saling mencintai dan menyayangi atau sebuah masyarakat yang penuh dengan perpecahan, permusuhan dan perselisihan.

Dengan tujuan seperti itu, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh, yaitu manakala membentuk sebuah masyarakat yang saling menyayangi, penuh dengan persaudara antara Muhajirin dan Anshar. Sampai kiranya diketahui bahwa fulan adalah saudaranya si fulan, sehingga kecintaan mereka sampai mengantarkan dirinya diliang kubur yaitu manakala mereka gugur, mati sahid dalam sebuah peperangan. Bahkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih menekankan lagi sarana yang mampu menebar kecintaan ini yaitu dengan sabdanya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ )) [رواه مسلم والترمذي وابن ماجه وغيرهم]

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya. Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak bisa sempurna keimanan kalian sampai kalian saling mencintai, maukah kalian aku beritahu sesuatu yang apabila kalian kerjakan kalian saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian”. HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad.

Saudaraku yang saya cintai…

Perasaan, kesadaran dan belas kasih orang pada sekarang ini, sangat disayangkan sekali, berada diujung semua yang kita sebut tadi, disana ada orang yang dalam bergaul bersama karibnya dengan akal yang kaku, kosong dari sifat sensitive dan belas kasih. Dan kebalikan dari itu, ada orang yang dalam bergaul bersama teman karibnya, hanya mengandalkan perasaan yang halus, bahkan terkadang sampai pada tingkat mabuk kasmaran, terkagum-kagum dan mendewakannya.

Maka bersikap tengah-tengah, mengukurnya dengan akal dan perasaan sesuai dengan kondisi dan orang yang berbeda-beda. Dan itu semua adalah tuntutan yang tidak mungkin semua orang bisa akan tetapi keutamaan itu, Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

A. Bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada orang lain

Apakah sudah cukup baik kita dalam bersikap mudaraah? Apakah engkau mengetahui perbedaan antara sikap mudaraah dan mudahanah (menjilat)?.

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: (( أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ . فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ , فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ)) [متفق عليه]

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada seorang lelaki yang memohon izin kepada Rasulullah e, maka beliaupun bersabda: “Izinkanlah untuknya, seburuk-buruk kerabat ialah dia, maka ketika ia telah masuk dan duduk disamping beliau, beliau (Rasulullah e) bermanis muka kepadanya.” Ketika orang tersebut pulang, maka akupun bertanya keheranan: Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi begini dan begitu, namun kemudian tatkala ia masuk, engkau bermanis muka kepadanya? Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, kapan kamu melihatku pernah melakukan perbuatan keji. Sesungguhnya manusia paling buruk ialah orang yang dijauhi oleh orang lain karena mereka menghindari kata-katanya yang keji.” HR Bukhari dan Muslim.

Al Qurthubi mengomentari hadits ini dengan berkata: “Pada hadits ini terdapat petunjuk bolehnya mengghibahi (menyebutkan kesalahan) orang yang menampakkan kefasikan atau perbuatan keji dan yang serupa dengannya berupa tindak kelaliman ketika memutuskan sesuatu, menyeru kepada perbuatan bid’ah. Sebagaimana ada petunjuk bolehnya bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada mereka, guna menghindari kejahatannya, selama sikap bijak tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala.

Dan perbedaan antara sikap bijak dan menjilat ialah sikap bijak adalah mengorbankan sebagian kepentingan duniawi demi menjaga kemaslahatan duniawi lainnya atau kemaslahatan agama atau kedua-duanya, dan sikap ini adalah sikap yang dibolehkan, bahkan kadang kala dianjurkan. Sedangkan sikap menjilat adalah mengorbankan urusan agama demi mencapai kepentingan duniawi. Dan Nabi e dalam kisah ini hanya mengorbankan dari kepentingan duniawinya untuk orang tersebut berupa sambutan baik dan berlemah lembut ketika berbicara dengannya. Walaupun demikian beliau sama sekali tidak pernah memujinya dengan suatu ucapan apapun, sehingga tidak ada pertentangan antara ucapan beliau pertama dengan sikapnya.”

Jadi yang dimaksud dengan mudaraah yaitu bersikap lemah lembut ketika berbicara dan sambutan yang baik manakala menghadapi pelaku kemaksiatan dan pendosa, itu dilakukan karena, pertama guna menghindari kejahatannya, dan yang kedua harapan untuk mereka, barangkali dengan sikap bijak ini bisa sebagai sebab mereka memperoleh hidayah, namun dengan syarat selama sikap bijak tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala.

Namun yang dibolehkan hanya pada urusan dunia saja, karena kalau itu dilakukan dalam urusan agama, dirinya telah berbalik dari sikap mudaraah menjadi mudahanah (menjilat), sekarang apakah kita bisa merealisasikan keduanya? Seperti, lemah lembut, memberi udzur, bermuka manis, memuji atas seseorang yang bisa mendatangkan kemaslahatan syar’iyah. Dan diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Mudarah kepada orang lain termasuk sedekah”. Dikeluarkan ole hath-Thabarani dari haditsnya Jabir radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Bathal mengomentari hadits ini dengan mengatakan: ‘Mudarah termasuk bagian dari akhlaknya seorang mukmin, yaitu dengan bersikap lemah lembut pada orang lain, dan merendahkan suara, dan yang demikian merupakan sarana yang paling kuat untuk mendorong tumbuhnya persaudaraan’.

Inilah, jaring untuk memburu, maka sebaik-baik target ada dalam permisalan, dan itu telah saya sebutkan dan isyaratkan karena hal itu sangat banyak sekali jenisnya.